Novel tentang Nara, remaja enam belas tahun yang tumbuh sebagai anak angkat di keluarga yang tidak sepenuhnya menerimanya. Sebuah kisah tentang identitas, luka diam, dan cinta yang bentuknya tidak selalu rapi — ditulis dengan cara yang tenang namun menohok. Novel kedua Wahyu Ayyubi setelah debut 3 Curut Berkacu (2020) yang terjual 2.000 eksemplar pada cetak pertama.
"Ada malam-malam ketika saya berhenti menulis di tengah kalimat. Bukan karena tidak tahu lanjutannya, tapi karena kalimat itu terlalu berat untuk diselesaikan dalam satu tarikan napas."— Wahyu Ayyubi, catatan penulis
Jangan Panggil Aku Papah! bercerita tentang Nara, seorang remaja enam belas tahun yang tumbuh sebagai anak angkat di keluarga yang tidak sepenuhnya menerimanya. Ia menyapu lantai sebelum orang lain bangun. Ia menjawab setiap pertanyaan dengan "tidak apa-apa" yang sudah menjadi tameng. Ia menatap retakan di langit-langit kamarnya setiap malam — retakan yang tidak pernah bertambah, tidak pernah berkurang. Seperti hidupnya.
Ada banyak novel Indonesia yang mengangkat tema keluarga. Sebagian besar mengandalkan tangisan keras, pertengkaran dramatis, atau rekonsiliasi yang terlalu rapi untuk dipercaya. Novel ini tidak melakukan semua itu. Wahyu Ayyubi memilih jalan yang lebih sulit: menuliskan luka dengan cara yang tenang, nyaris tanpa suara, tapi justru karena itu — terasa lebih dalam, lebih menohok.
Kekuatan novel ini terletak pada hal-hal yang tidak diucapkan. Pembaca tidak akan menemukan halaman penuh teriakan atau monolog panjang tentang perasaan. Yang ada adalah gestur kecil: tangan yang terulur lalu turun kembali, kursi yang dipilih paling ujung, piring yang diletakkan tanpa ada yang mengambil. Detail-detail kecil ini membangun dunia Nara dengan presisi yang menyakitkan.
Bagian pertama membawa pembaca menelusuri kehidupan Nara di keluarga angkatnya, pertemuannya dengan ibu kandung yang menyimpan banyak hal, dan kebencian yang mulai mengakar terhadap seorang ayah yang tidak pernah ia kenal. Bagian kedua membuka babak baru ketika seorang pria asing masuk ke kehidupan Nara, perlahan mengisi kekosongan yang selama ini ia pikir tidak bisa diisi. Hubungan mereka tumbuh dengan cara yang organik — sampai sebuah kebenaran muncul dan menghancurkan segalanya.
Akhir novel ini akan membuat Anda duduk diam selama beberapa menit setelah membaca halaman terakhir. Bukan karena kejutan semata, melainkan karena bobot emosional yang dibawa oleh setiap bab, setiap adegan, setiap dialog pendek yang ternyata menyimpan begitu banyak makna.
Novel ini adalah bukti bahwa cerita keluarga tidak harus berteriak untuk didengar. Kadang, bisikan yang paling pelan justru meninggalkan gema paling panjang.
"Saya tidak bisa menaruh buku ini sebelum halaman terakhir. Ending-nya membuat saya duduk diam selama sepuluh menit. Novel yang ditulis dengan sangat dewasa untuk penulis seusia Wahyu."
"Cara Wahyu menulis luka itu berbeda. Tidak ada teriakan, tidak ada drama berlebihan. Justru kesunyiannya yang membuat novel ini begitu kuat. Nara terasa nyata, seperti orang yang pernah saya kenal."
"Sebagai orang yang bekerja di dunia pendidikan, novel ini membuat saya lebih peka terhadap anak-anak yang diam di pojok kelas. Yang menjawab 'tidak apa-apa' padahal sedang menahan segalanya."
"Novel kedua Wahyu Ayyubi memperlihatkan lompatan yang luar biasa dari debut pertamanya. Kematangan narasinya membuat saya lupa bahwa penulisnya masih sangat muda. Karya yang layak diperhitungkan."
Penulis asal Kota Bekasi yang percaya bahwa luka paling dalam justru lahir dari hal-hal yang terlihat biasa: kalimat yang tak sempat diucap, pelukan yang tertunda, dan tatapan yang menyimpan terlalu banyak makna. Novel pertamanya, 3 Curut Berkacu (2020), terbit saat ia masih duduk di bangku SMA dan berhasil menembus 2.000 eksemplar pada cetak pertama. Wahyu menulis tema psikologis dan sosial dengan gaya realis — dekat dengan kehidupan, karena baginya cerita paling berani justru cerita yang tidak berlebihan, cukup jujur.
Rumah Naskah membantu Anda mewujudkan naskah menjadi buku siap terbit — dari editing hingga cetak dan distribusi.
Konsultasi Penerbitan Gratis