Yang paling menyakitkan adalah ketika akhirnya ia menemukan ayahnya — dan ayahnya berkata: "Jangan panggil aku papah."
Harga pre-order naik dalam:
Tentang Cerita Ini
Nara, enam belas tahun. Anak angkat. Setiap pagi ia menyapu lantai rumah yang bukan miliknya. Setiap hari ia mendengar kakak-kakaknya membicarakannya di belakang — kadang terang-terangan. "Kamu itu cuma anak pungut."
Ketika akhirnya kebenaran tentang status keluarganya terbuka, Nara dihadapkan pada pilihan yang tidak seorang anak pun seharusnya hadapi: bertemu ibu kandung yang punya kehidupan baru tanpa dirinya, atau tetap tinggal di rumah yang sudah jelas menolaknya.
Ia bertemu Santi — ibu kandungnya. Tapi Santi bukan malaikat penyelamat. Ia perempuan biasa dengan masa lalu yang rumit, anak baru yang ia besarkan, dan keluarga besar yang memandang Nara sebagai kesalahan yang sudah ditutup rapi.
"Di sini, lebih baik kamu tidak memanggil ibu kamu dengan sebutan mamah."
Lalu hadir Pak Setya — seorang pria asing yang kebetulan menyerempet Nara di jalan. Ia menawarkan makan malam sebagai permintaan maaf. Tapi pertemuan demi pertemuan, hubungan mereka tumbuh. Pak Setya memberikan hal yang tidak pernah Nara miliki: seseorang yang mendengarkan.
Sampai semuanya runtuh dalam satu malam di tengah keramaian mal. Satu rahasia yang mengubah segalanya. Satu kata yang rapuh — "Papah..." — dan satu kalimat yang menghancurkan.
"Jangan panggil aku papah."
Di Dalam Novel Ini
Nara kehilangan ayah angkatnya, diusir dari rumah, dan akhirnya mengetahui kebenaran tentang keluarganya. Ia bertemu ibu kandung yang ternyata sudah membangun kehidupan baru — tanpa ruang untuknya. Bagian ini berakhir dengan satu nama yang membakar: Andika. Ayah kandung yang tidak pernah ia kenal.
Seorang pria asing bernama Pak Setya masuk ke kehidupan Nara — memberi perhatian yang tidak pernah ia miliki. Hubungan mereka tumbuh perlahan, jujur, tanpa pretensi. Sampai malam itu datang. Dan Nara menyadari bahwa orang yang mengisi kekosongannya... adalah orang yang sama yang menciptakannya.
"Yang menghancurkan Nara bukan kebohongan. Yang menghancurkan Nara adalah kenyataan bahwa semua kebaikan itu nyata."
— Narasi, Chapter 23
Kamu pernah merasa harus membuktikan diri di tempat yang seharusnya menerimamu apa adanya.
Kamu tahu rasanya bilang "tidak apa-apa" padahal segalanya tidak baik-baik saja.
Kamu percaya bahwa keluarga bukan soal darah, tapi soal siapa yang hadir — dan siapa yang pergi.
Kamu rindu membaca novel yang tidak menggurui, tapi menghantam — pelan, dalam, dan tinggal lama setelah halaman terakhir ditutup.
Kata Pembaca Awal
"Narasi yang menahan diri justru menjadi kekuatannya. Tidak ada melodrama, tidak ada tangis yang dipaksakan. Penulis ini paham bahwa diam bisa lebih keras dari teriakan. Penggunaan motif berulang, retakan langit-langit, jam dinding, koper yang terseret, menunjukkan kematangan naratif yang jarang saya temui di penulis muda Indonesia."
Dr. Riskha Arfiyanti, M.Pd.
Dosen Sastra Indonesia — Univ. Jilin, China.
"Aku baca chapter terakhir tengah malam. Tidak bisa berhenti. Pas selesai, aku cuma duduk diam di kasur sepuluh menit. Ini novel yang nggak selesai setelah selesai. Twist-nya bikin aku scroll balik ke bagian awal dan baca ulang semua adegan Pak Setya — semuanya jadi beda."
Fira Auliani
Book Reviewer @bacasampaihilang — Bandung
"Dari sisi editorial, naskah ini matang. Dialognya natural, terasa seperti menguping percakapan orang Indonesia sungguhan, bukan dialog novel. Pacing-nya terjaga sampai akhir. Saya jarang menemukan naskah debut yang tidak perlu banyak saya coret."
Hendra Nugroho
Editor Senior Fiksi — Jakarta
"Sebagai konselor yang bekerja dengan anak-anak adopsi, saya terkejut dengan keakuratan emosional novel ini. Cara Nara menyimpan segalanya di dalam, kalimat 'tidak apa-apa' sebagai tameng, itu bukan fiksi. Itu realitas yang saya lihat setiap hari di ruang praktik. Novel ini memberi suara pada anak-anak yang terlalu lama membisu."
Sinta Amelia, M.Psi.
Psikolog Anak & Keluarga — Surabaya
"Gaya nulisnya beda dari novel lokal yang biasa aku baca. Nggak lebay, nggak memaksa nangis. Tapi entah kenapa mataku berkaca-kaca sendiri di bagian halte bus. Adegan itu simpel banget. Nara cuma duduk, ponsel berdering, dia nggak angkat, tapi itu lebih menyayat dari adegan mana pun yang pernah aku baca."
M. Rizki Pratama
Komunitas Baca Makassar — Makassar
"Saya sudah menulis tiga novel. Tapi membaca naskah ini membuat saya iri, dalam arti yang positif. Ada keberanian di sini: keberanian untuk membiarkan cerita diam, untuk tidak menjelaskan semua hal, untuk mempercayai pembaca. Ending-nya tidak memberikan resolusi yang rapi, dan itu pilihan yang tepat. Hidup memang tidak rapi."
Asriyah Latif, S.Sos.
Penulis & Pegiat Literasi — Makassar
Tentang Penulis
Novel pertamanya, 3 Curut Berkacu, terbit saat ia masih duduk di bangku SMA. Sekarang, beberapa tahun kemudian, ia kembali dengan cerita yang lebih dalam, lebih matang, dan lebih berani.
Jangan Panggil Aku Papah! adalah novel yang lahir dari pertanyaan sederhana: apa yang terjadi ketika seseorang yang meninggalkanmu ternyata adalah orang yang paling menyayangimu, tanpa kalian berdua sadari?
Wahyu menulis bukan untuk membuat pembaca menangis. Ia menulis untuk membuat pembaca diam , dan merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Sebelum Kamu Memutuskan
Pertanyaan yang jujur. Jawabannya: novel ini sudah melewati proses penulisan lebih dari satu tahun dengan editing berlapis. Gaya narasinya dipuji oleh pembaca draft awal karena tidak terasa seperti novel pemula. Kamu tidak diminta percaya pada nama besar, kamu diminta membaca 5 halaman pertama dan memutuskan sendiri. Kalau tidak terasa, tutup saja. Tapi kalau terasa... kamu akan tahu.
Novel ini memang menyentuh tema keluarga yang berat. Tapi ini bukan novel yang memaksa kamu menangis setiap halaman. Ada humor kecil. Ada kehangatan yang muncul di tempat yang tidak diduga, warung Bu Lastri, percakapan sederhana dengan Delisa, makan malam canggung yang akhirnya menjadi momen terbaik. Novel ini berat bukan karena menghantam terus-menerus, tapi karena menghantam di saat kamu tidak siap.
Setiap chapter dirancang dengan cliffhanger yang membuatmu tidak bisa berhenti. Bagian 1 berakhir dengan luka dan kebencian. Bagian 2 membalikkan segalanya dengan twist yang membuat pembaca ingin baca ulang dari awal. Struktur dua bagian bukan gimmick, ini adalah satu cerita yang butuh ruang untuk membangun, memuncak, dan mematahkan. Kalau kamu pernah maraton K-drama 16 episode, 24 chapter ini akan terasa lebih cepat.
Justru di situlah bedanya. Novel ini tidak mencoba jadi terjemahan atau meniru gaya Barat. Dialognya berbahasa Indonesia yang benar-benar terasa hidup. Cara orang Indonesia bicara, diam, dan menyembunyikan perasaan. Emosinya universal, tapi kemasannya otentik. Kamu tidak akan menemukan cerita ini di rak terjemahan mana pun, karena cerita ini hanya bisa diceritakan dalam bahasa kita.
Isi novel sama. Tapi harga pre-order saat ini hanya Rp79.000 . Harga akan naik bertahap hingga harga normal Rp129.000. Semakin awal kamu memutuskan, semakin besar penghematan. Dan nama pre-order akan tercatat sebagai pendukung awal novel ini.
Harga Bertingkat — Semakin Awal, Semakin Hemat
Gelombang pertama sudah ditutup. Gelombang kedua sedang berjalan — dan tidak akan bertahan lama.
Gelombang 1
Rp67.000
Sudah berakhir
Gelombang 2
Rp79.000
Hemat Rp50.000
Gelombang 3
Rp99.000
Mungkin besok
Harga Normal
Rp129.000
Setelah launching
Novel — 2 Bagian — 24 Chapter
Gelombang 2 — Hemat Rp50.000 dari harga normal
Pembayaran aman • Pengiriman ke seluruh Indonesia
Harga naik ke Rp99.000 dalam:
Diterbitkan oleh
Novel ini diterbitkan secara resmi oleh PT Aka Nara Pratama. Setiap eksemplar yang kamu terima adalah cetakan asli dengan kualitas terjamin — dari kertas, tinta, hingga jilid.
Mengingatkan bahwa luka yang paling dalam bukan datang dari orang yang membenci kita — tapi dari orang yang menyayangi kita dengan cara yang salah, terlambat, atau tidak cukup. Dan kadang, justru dari situ, sesuatu yang baru bisa dimulai.
"Lampu warung Bu Lastri masih menyala."Pre-Order Sekarang — Rp79.000
Harga Gelombang 2 berlaku terbatas • Naik ke Rp99.000 tanpa pemberitahuan