Beranda Katalog Buku Jangan Panggil Aku Papah!
Jangan Panggil Aku Papah! — Wahyu Ayyubi
Fiksi
Novel / Fiksi Sastra

Jangan Panggil Aku Papah!

Anak Yang Tidak Dipilih, Nama Yang Tidak Dikenal
Oleh: Wahyu Ayyubi
Rp 125.000

Novel tentang Nara, remaja enam belas tahun yang tumbuh sebagai anak angkat di keluarga yang tidak sepenuhnya menerimanya. Sebuah kisah tentang identitas, luka diam, dan cinta yang bentuknya tidak selalu rapi — ditulis dengan cara yang tenang namun menohok. Novel kedua Wahyu Ayyubi setelah debut 3 Curut Berkacu (2020) yang terjual 2.000 eksemplar pada cetak pertama.

Penerbit
PT Aka Nara Pratama
Halaman
xiv + 333 hlm
Ukuran
14,8 × 21 cm
Cetakan
I, Maret 2026
Editor
Dr. Riskha Arfiyanti, M.Pd.
IKAPI
Anggota IKAPI
Bagikan:
"Ada malam-malam ketika saya berhenti menulis di tengah kalimat. Bukan karena tidak tahu lanjutannya, tapi karena kalimat itu terlalu berat untuk diselesaikan dalam satu tarikan napas."— Wahyu Ayyubi, catatan penulis
24
Bab Penuh Emosi
333
Halaman Cerita
2
Bagian Utama
Novel ke-2
Karya Wahyu Ayyubi

Jangan Panggil Aku Papah! bercerita tentang Nara, seorang remaja enam belas tahun yang tumbuh sebagai anak angkat di keluarga yang tidak sepenuhnya menerimanya. Ia menyapu lantai sebelum orang lain bangun. Ia menjawab setiap pertanyaan dengan "tidak apa-apa" yang sudah menjadi tameng. Ia menatap retakan di langit-langit kamarnya setiap malam — retakan yang tidak pernah bertambah, tidak pernah berkurang. Seperti hidupnya.

Cerita yang Menolak Berteriak

Ada banyak novel Indonesia yang mengangkat tema keluarga. Sebagian besar mengandalkan tangisan keras, pertengkaran dramatis, atau rekonsiliasi yang terlalu rapi untuk dipercaya. Novel ini tidak melakukan semua itu. Wahyu Ayyubi memilih jalan yang lebih sulit: menuliskan luka dengan cara yang tenang, nyaris tanpa suara, tapi justru karena itu — terasa lebih dalam, lebih menohok.

Kekuatan novel ini terletak pada hal-hal yang tidak diucapkan. Pembaca tidak akan menemukan halaman penuh teriakan atau monolog panjang tentang perasaan. Yang ada adalah gestur kecil: tangan yang terulur lalu turun kembali, kursi yang dipilih paling ujung, piring yang diletakkan tanpa ada yang mengambil. Detail-detail kecil ini membangun dunia Nara dengan presisi yang menyakitkan.

Dua Bagian, Satu Perjalanan

Bagian pertama membawa pembaca menelusuri kehidupan Nara di keluarga angkatnya, pertemuannya dengan ibu kandung yang menyimpan banyak hal, dan kebencian yang mulai mengakar terhadap seorang ayah yang tidak pernah ia kenal. Bagian kedua membuka babak baru ketika seorang pria asing masuk ke kehidupan Nara, perlahan mengisi kekosongan yang selama ini ia pikir tidak bisa diisi. Hubungan mereka tumbuh dengan cara yang organik — sampai sebuah kebenaran muncul dan menghancurkan segalanya.

Akhir novel ini akan membuat Anda duduk diam selama beberapa menit setelah membaca halaman terakhir. Bukan karena kejutan semata, melainkan karena bobot emosional yang dibawa oleh setiap bab, setiap adegan, setiap dialog pendek yang ternyata menyimpan begitu banyak makna.

Novel ini adalah bukti bahwa cerita keluarga tidak harus berteriak untuk didengar. Kadang, bisikan yang paling pelan justru meninggalkan gema paling panjang.

1Nostalgia
2Orang-Orang di Rumah Ini
3Pecah
4Rel Kereta
5Warung Bu Lastri
6Kebenaran Pahit
7Jejak Masa Lalu
8Jangan Panggil Aku Mamah!
9Awal Semester dan Formulir
10Warung dan Hujan
11Nama Yang Dihindari
12Pertemuan Yang Tidak Terjadi
13Panggilan dari Orang Asing
14Rumah Tanpa Anak
15Mulai Terisi
16Bu Lastri dan Delisa
17Sekolah yang Terlalu Tinggi
18Kak Rini Pergi
19Wasiat yang Tidak Tertulis
20Nara Malang
21Kabar Baik, Kah?
22Ledakan
23Sunyi
24Retakan
Judul
Jangan Panggil Aku Papah! — Anak Yang Tidak Dipilih, Nama Yang Tidak Dikenal
Penulis
Wahyu Ayyubi
Editor
Dr. Riskha Arfiyanti, M.Pd.
Koreksi Typos
Asriyah Latif, S.Sos.
Penata Letak
Hairudin Nasir
Desain Sampul
Muh. Abu Ariq
Digitalisasi
Zuprianto
Penerbit
PT Aka Nara Pratama (Anggota IKAPI)
QRCBN
62-9193-5439-898
Cetakan
Cetakan I, Maret 2026
Jumlah Halaman
xiv + 333 halaman
Ukuran Buku
14,8 × 21 cm
Bahasa
Bahasa Indonesia
Genre
Novel / Fiksi Sastra / Keluarga / Psikologis

"Saya tidak bisa menaruh buku ini sebelum halaman terakhir. Ending-nya membuat saya duduk diam selama sepuluh menit. Novel yang ditulis dengan sangat dewasa untuk penulis seusia Wahyu."

"Cara Wahyu menulis luka itu berbeda. Tidak ada teriakan, tidak ada drama berlebihan. Justru kesunyiannya yang membuat novel ini begitu kuat. Nara terasa nyata, seperti orang yang pernah saya kenal."

"Sebagai orang yang bekerja di dunia pendidikan, novel ini membuat saya lebih peka terhadap anak-anak yang diam di pojok kelas. Yang menjawab 'tidak apa-apa' padahal sedang menahan segalanya."

"Novel kedua Wahyu Ayyubi memperlihatkan lompatan yang luar biasa dari debut pertamanya. Kematangan narasinya membuat saya lupa bahwa penulisnya masih sangat muda. Karya yang layak diperhitungkan."

WA
Wahyu Ayyubi

Penulis asal Kota Bekasi yang percaya bahwa luka paling dalam justru lahir dari hal-hal yang terlihat biasa: kalimat yang tak sempat diucap, pelukan yang tertunda, dan tatapan yang menyimpan terlalu banyak makna. Novel pertamanya, 3 Curut Berkacu (2020), terbit saat ia masih duduk di bangku SMA dan berhasil menembus 2.000 eksemplar pada cetak pertama. Wahyu menulis tema psikologis dan sosial dengan gaya realis — dekat dengan kehidupan, karena baginya cerita paling berani justru cerita yang tidak berlebihan, cukup jujur.

Punya Cerita yang Ingin Diterbitkan?

Rumah Naskah membantu Anda mewujudkan naskah menjadi buku siap terbit — dari editing hingga cetak dan distribusi.

Konsultasi Penerbitan Gratis